Kamis, 09 Oktober 2008

Bagaimana Mendapat Pasangan Yang Ideal

Pertanyaan :

Saya seorang gadis usia hampir 29 tahun. Berjilbab, dan kini bekerja sebagai karyawati swasta. Sejak kecil saya bercita-citaa ingin mendapatkan suami yang sholeh. Dan saya pun punya keinginan dalam menuju pintu gerbang pernikahan dilakukan dengan prinsip Islam. Dan alhamddulillah sejak kecil sampai kuliah dan sekarang dalam pergaulan saya mampu menjaga prinsip-prinsip Islam.

Namun kiranya Allah berkehendak menguji kesabaran dan tingkat keimanan hamba-Nya. Beberapa kali saya didekati pemuda yang berkeinginan menjadikan saya sebagai istrinya, tetapi kandas ditengah jalan karena kenyataannya sebagian mereka menginginkan berpacaran terlebih dahulu sebelum memasuki gerbang pernikahan, sedangkan saya tetap berpegang teguh pada prinsip Islam yang saya pegang. Dan yang menjadi masalah bagi saya sekarang adalah orang tua saya sudah sepuh(tua) dan sering sakit. Oleh karenanya mereka menginginkan sekali agar saya segera menikah, agar dihari tuanya mereka dapat melihat kebahagiaan anaknya dan melihat kelahiran cucu-cucunya. Ustadz, langkah apa yang harus saya tempuh agar keinginan saya segera tercapai. (Hamba Allah)

Jawaban :

Nikah itu tidak seperti membeli jajan atau pakain, yang sewaktu-waktu jika kita ingin tinggal ke pasar dan membeli sesuai dengan yang kita inginkan. Untuk mendapatkan jodoh memang sulit-sulit gampang. Kalau sudah ketemu jodohnya terasa sekali perjalanannya seperti ada yang membimbing.

Kepada Anda dan para pembaca yang senasib dengan Anda, kami mencoba untuk memberikan beberapa saran :

Pertama, ubahlah nasib Anda dengan ikhtiar. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan meminta ustadz atau guru agama untuk mencarikan lelaki yang mau menikahi Anda. Anda jangan ragu atau malu untuk menyampaikan hal itu. Pernikahan itu suci, fithrah, dan sangat manusiawi. Usaha Anda melakukan hal ini termasuk ibadah.

Kedua, ubahlah sikap Anda. Jangan menampakkan sikap keras dan kaku, sehingga belum apa-apa lelaki yang ingin menaruh perhatian kepada Anda justru lari ketakutan. Jangan curiga kepada semua lelaki bahwa mereka hanya ingin mengajak Anda berpacaran. Lelaki yang ingin mengetahui calon istrinya adalah wajar, sebagaimana Anda juga ingin mengetahui setiap lelaki yang ingin mendekati Anda.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana kedua bisa saling mengetahui tanpa harus berpacaran, misalnya. Ini tinggal memformat pertemuannya sana. Ini persoalan teknis yang bisa diatur jika ada kemauan bersama untuk menjaga syari’at. Dalam hal ini hak-hak lelaki yang ingin mengetahui bakal calonnya hendaklah Anda penuhi. Bersamaan dengan itu Anda tetap wajib menjaga ketentuan agama. Untuk itu kami sarankan Anda ‘nyunnah’ saja. Jangan berlebih-lebihan, tapi jangan pula terlalu longgar.

Ketiga. Selain berusaha, kami sarankan Anda lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah swt. Berdo’alah, dan jangan bosan-bosan meminta kepada Allah agar diberikan jodoh seorang lelaki shaleh yang membawa kebaikan hidup Anda di dunia dan akhirat. Mintalah kepada-Nya, mudahkanlah. Tak lupa, ajak pula keluarga Anda, terutama ayah dan ibu untuk mendo’akan hal yang sama. Rasulullah sendiri tidak lupa mendo’akan Fathimah, putrinya agar dipertemukan dengan seorang lelaki yang terbaik untuknya.

Keempat, jika semua usaha itu telah Anda lakukan dengan sebaik-baiknya, maka pasrahkan seluruh urusan itu kepada Allah swt. Biarlah Allah sendiri yang menentukan apa yang terbaik menurut-Nya. Insya-Allah segala yang baik menurut kehendak Allah itulah yang terbaik bagi Anda.

Terakhir, ingatlah bahwa kehidupan di dunia ini ujian dari Allah swt. Setiap manusia diuji dengan berbagai macam ujian. Ada yang diuji dengan harta kekayaan, anak keturunan, kesehatan, dan ada pula yang diuji dengan lambatnya pernikahan. Sadarlah bahwa saat ini kita sedang dalam ujian. Hanya soalnya saja yang beragam

Cara Bicara Dengan Lawan Jenis Secara Islami

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, saya punya persoalan mudah-mudahan ustadz punya solusinya. Saya dijodohkan teman-teman saya, tapi tak pernah sekalipun kami yang dijodohkan itu bicara satu sama lain. Karena kami terlalu malu untuk itu, sebab saya tersandung ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa kaum laki-laki dan perempuan hendaknya menundukkan pandangan satu sama lain.

Lalu bagaimana supaya saya tau perasaan dia sebenarnya pada saya. Sedangkan tak ada satu orangpun yang bisa saya percayai untuk mewakili saya menanyakannya. Selama ini saya hanya bermohon pada ALLAH SWT agar saya dikaruniakan pasangan hidup terbaik untuk didunia dan akhirat, tapi tidak spesifik pada satu orang (pada si X). Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih.

Wassalaamu'alaikum wr. wb

HambaALLAH

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Dalam hal taaruf, usul kami :

1. Berusahalah untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Bisa lewat surat menyurat, atau lewat telepon singkat (kalau terlalu lama bahaya), atau bicara langsung dengan ditemani orang ke 3 yang terpercaya.

2. Nomer 1 tadi harus dilandasi dengan hati yang bersih, jauhkan dari bersitan syahwat rendahan yang (maaf, sampai membuat timbul perasaan siiRR). Jika perasaan syahwat rendahan tersebut muncul ditengah pembicaraan dengannya di telpon atau bicara langsung, maka segeralah mengakhiri pembicaraan. Jika timbul saat sedang membaca surat, letakkan dulu suratnya, istghfar dan ta’awudz. Setan sedang lewat menggoda. Susah menjelaskannya sebab ini bahasa bersitan hati namun Insya Allah jika merasakannya anda tahu itulah yang sedang kami maksud.

3. Supaya anda tahu perasaan dia yang sebenarnya, yang perlu anda ketahui hanya keseriusan hatinya melamar anda. Tanyakanlah: apakah ia melamar anda karena disuruh orang lain? Apakah ia melamar anda karena terpaksa, apakah ia tak punya keberatan mendasar terhadap anda? Apakah ia bersedia menjadi suami yang baik bagi anda dengan landasan Islam? Dan saran kami, tak perlu tanyakan apakah ia cinta atau tidak pada anda saat ini sebab boleh jadi jawabannya sekarang adalah TIDAK, karena memang cinta belum tentu sudah tumbuh namun tidak menghalangi proses pernikahan.

Wallahua’lam bishshowwaab

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Ust. M. Ihsan Tanjung dan Siti Aisyah Nurmi

AKU INGIN MENIKAH

“Sam, ada surat!” teriakan itu berasal dari ruang tamu. Bergegas aku keluar dari kamar, meninggalkan tumpukan laporan—tugas dari Lab Biokimia—yang dari kemarin nggak kelar-kelar. Itu pasti surat dari Ibu, surat yang memang kutunggu-tunggu balasannya. Benar saja, dugaanku tidak meleset, surat itu memang dari Ibu di kampung. Kembali aku masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, lalu mengambil posisi terbaik di atas tempat tidur. Sejenak aku lupa bahwa tugasku dikumpul esok hari.

Aku menulis surat pada Ibu sebulan yang lalu. Isinya tidak minta dikirimkan wesel sebagaimana surat-suratku sebelumnya. Juga bukan mengabarkan kalau aku lagi sakit dan sebagainya. Isi suratku itu sangat, mungkin itulah surat tersingkat yang pernah kubuat. Saking singkatnya, sampai sekarang aku masih hafal kata-kata yang kutulis, begini: Ibu, aku ingin menikah, apakah Ibu, Bapak, dan yang lainnya setuju dan merestui? Kutunggu balasan Ibu. Hanya itu, singkat bukan? Dan sekarang aku menerima balasannya.

Keinginan untuk menikah sebenarnya sudah merasuki benakku sejak setahun yang lalu, saat aku masih duduk di tingkat pertama di fakultas MIPA USU, jurusan Farmasi. Selama setahun niat untuk menggenapkan separuh dien itu jadi agenda pikiran utamaku, disamping masalah kuliah tentunya. Tentu saja tak ada seorang pun yang tahu masalah ini higga surat buat Ibu itu akhirnya kutulis.

Tak sabar akhirnya kurobek amplop surat dari Ibu, dan mengeluarkan berlembar-lembar kertas dari dalamnya. Aku sudah yakin isinya pastilah ceramah panjang lebar yang intinya mereka menolak niat suci dan agung itu. Untuk lebih pasti ada baiknya langsung dibaca bukan?

Pantas saja surat itu berlembar-lembar, rupanya bukan hanya Ibu yang menulis. Setelah kuhitung ada sembilan lembar, di bagian atasnya tertulis nama masing-masing penulis, rupanya Ibu telah bergerilya mengumpulkan pendapat saudara-saudaraku yang lain, mungkin itu sebabnya balasannya agak terlambat kuterima. Ada surat dari Ibu, Bapak, enam lembar yang lain dari Abang dan Kakakku dan tak ketinggalan keponakanku paling besar yang sudah duduk di bangku SMU juga turut menyumbangkan pendapatnya. Aku tersenyum, mirip ulangan saja, mereka adalah siswa dan aku yang memeriksa hasil ulangannya. Ah, surat siapa yang harus kuperiksa…eh, baca duluan? Kuambil salah satu.

Ibu

Terus terang Ibu kaget. Kau anak Ibu yang paling bungsu, yang sampai sekarang masih suka ngambek kalau dijahili Abang dan Kakakmu, ternyata sudah ingin menikah. Tidakkah kau merasa usiamu masih terlalu muda? Lagipula kau seorang lelaki, tak perlu cepat-cepat menikah. Lagian Abangmu Hendi dan kakakmu Nia belum menikah, apa kau ingin melangkahi keduanya? Tak baik itu. Pokoknya Ibu tidak setuju. Ingat, jangan sampai kuliahmu terganggu karena masalah ini.

Itulah inti surat dari Ibu, masih ada yang lainnya, menanyakan kesehatanku, juga nasihat lain seperti biasanya, jangan lupa salat, jangan telat makan, jangan sering keluar malam, dll.

Batu sandungan pertama kujumpai, Ibu tidak menyetujui. Tapi apa hanya karena masalah usia? Tidakkah Ibu tahu usia berapa Aisyah saat menikah dengan Baginda Rasul? Atau apakah karna dia wanita lalu boleh cepat menikah sedang lelaki nggak usah buru-buru? Kurasa lelaki dan wanita tak boleh dibedakan dalam hal ini, semua punya hak yang sama. Lagipula kedewasaan seseorang tak bisa dilihat dari usianya. Banyak mujahid dan mujahidah di Palestina, Afghan, juga di Indonesia ini yang masih berusia belasan tahun, tapi sudah mampu dan bersikap dewasa. Sedang umurku tidak belasan lagi, tapi sudah 22 tahun, bukankah cukup pantas untuk menikah? Argumen Ibu masih bisa kutangkis, insya Allah. Aku akan bilang begini pada Ibu, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa…itu pilihan’ (he…he…he…). Lalu kuambil surat kedua.

Bapak

Ha…ha…kau serius, Sam? Bapak nggak nyangka, kau yang dari dulu pendiam ternyata bisa melucu juga. Bapak tahu, kau hanya main-main. Anakku, menikah itu bukan hal main-main. Tanggung jawabnya besar. Apa kau sudah sanggup membiayai keluargamu nanti? Apa kau sanggup memberi makan anak orang? Sam, sampai surat ini selesai Bapak tulis, Bapak masih tertawa. Sama sekali tidak menyangka, kau ternyata punya bakat humor.

Batu sandungan ke dua. Sejak awal aku yakin Bapak akan marah besar. Tapi ternyata tidak, Bapak malah menganggap aku sedang melucu, apakah keinginan untuk menikah itu lucu? Nampak sekali kalau Bapak meragukanku dalam hal keuangan. Apa kau sanggup memberi makan anak orang? Mengapa tidak? Bukankah aku sudah bekerja dan tak pernah minta dikirimi uang lagi kecuali untuk keperluan kuliah yang benar-benar mahal? Aku hanya kuliah pagi hari, siangnya aku jadi tentor di sebuah Bimbingan Belajar dan malamnya mengajar privat di rumah Bu Retno, ditambah lagi dengan honor dari tulisanku yang dimuat di media massa. Dalam sebulan aku sudah bisa menghasilkan tak kurang dari enam ratus ribu rupiah, dan aku sudah memperhitungkan kalau itu sudah lebih dari cukup untuk menghidupi aku dan istriku nanti, tentu saja hidup yang sederhana, mencontoh Rasulullah tentunya.

Kak Yarni

Hebat kamu, Sam. Kakak nggak nyangka kamu sudah memikirkan itu sekarang. Kakak sangat setuju. Untuk biaya pesta nanti, Kakak yang akan tanggung sepenuhnya. Tapi…orangnya cantikkan?

Dari dulu Kak Yarni—kakakku paling besar—memang selalu mendukung apapun yang kuinginkan, termasuk untuk kuliah di kota Medan ini, jauh dari orang tua dan kampung halaman. Biaya pesta? Terima kasih deh, Kak. Tapi yang jelas nantinya tak akan ada pesta besar-besaran seperti yang Kakak bayangkan. Itu cuma suatu pemborosan. Pesta pernikahanku nanti mungkin juga pesta yang menurut semua orang di kampung kita adalah pesta yang aneh, di mana tamu pria dan tamu wanita di pisah, juga tak ada hiburan musik sebagaimana pesta-pesta biasanya. Dan mengenai calonku…tentu saja ia cantik, menurutku tentunya. Tapi belum tentu cantik menurut Kakak, karena fisik bagiku bukan masalah utama, kecantikan hati dan akhlak bagiku adalah kriteria utama. Tapi walau bagaimanapu aku tetap berterima kasih pada kakakku, karena dia orang pertama yang mendukung niatku.

Surat-surat yang lain tak jauh beda dari surat-surat yang sudah kubaca. Kak Ati—kakakku yang nomor dua—menolak habis-habisan. Katanya kuliahku harus selesai dulu, atau kalau aku mau melanjutkan S2 dia sanggup menanggung biayanya, setidaknya aku harus mendapatkan kerja dulu sesuai dengan ijazahku, kalau tidak maka jangan harap dia akan merestui pernikahanku. Inilah salah satu saudaraku yang begitu mengejar dunia, seolah dunia adalah segala-galanya dan akhirat adalah urusan kecil yang bisa dipikir belakangan.

Surat dari Bang Rio tidak begitu panjang, dia hanya menurut, kalau ibu dan bapak setuju katanya silahkan saja. Tapi kalau tidak, katanya jangan coba-coba melanggar, bahaya.

Yang sedikit agak menyudutkan adalah surat dari Kak Nia—kakakku yang belum menikah. Dia bilang tak akan menganggapku adik lagu kalau sampai aku melangkahinya. Katanya itu pantangan, bisa-bisa dia nanti tak dapat jodoh. Kata siapa? Kalau dia mau, sebenarnya dari dulu dia sudah bisa menikah. Sudah banyak pemuda yang melamarnya, tapi semua ditolaknya, nggak cakeplah, nggak kayalah, terlalu kampunganlah, dan sempai sekarang dia masih mencari pria yang sempurna menurutnya itu. Pernah suatu kali kukatan padanya, kalau menunggu pria yang sempurna kayaknya nggak bakalan datang deh, Kak, soalnya Baginda Rasul udah meninggal. Dia langsung mencak-mencak.

Surat itu sangat berbeda dengan surat Bang Hendi yang juga belum menikah. Dia malahan sangat mendukung, katanya kalau memang sudah ada keinginan dan kemampuan sebaiknya dilaksanakan, dia sendiri katanya tak usah dipikirkan, toh jodoh Tuhan yang atur.

Begitulah, ada yang pro dan ada yang kontra, dan memang begitulah manusia. Oh ya, masih ada satu surat yang belum kubaca, dari Yogi, keponakanku.

Om Sam, Yogi sih setuju aja kalau Om menikah, tapi dengan satu syarat, Om harus ajari Yogi gimana cara manggaet gadis. Yogi heran, Om kan wajahnya nggak cakep-cakep amat, tapi kok bisa dapat pacar, Yogi yang ganteng aja masih nggak tahu cara dapatin pacar. Udah ya, Om?

Aku tersenyum sambil melipat kembali lembaran-lembaran surat itu. Masih banyak anggota keluarga yang perlu siraman rohani. Masih banyak hati mereka yang gersang, termasuk si Yogi yang mungkin tak akan percaya kalau kukatakan bahwa pacaran itu dosa.

***

Liburan semester sudah di depan mata. Aku sudah tak sabar ingin pulang kampung. Liburan semester lumayan lama, satu setengah bulan, dan kurasa waktu itu cukup panjang bagiku untuk meyakinkan ibu bapak, juga saudara-saudaraku tentang keinginan, dan kurasa juga masih tersisa waktu untuk melangsungkan pernikahan nantinya.

Aku yakin bisa memberikan argumen-argumen yang nantinya akan membuat mereka mengangguk-anggukkan kepala. Menikah usia muda? Tak ada satu ayat Alquran yang melarang, bahkan malah dianjurkan kepada pemuda dan pemudi yang sudah sanggup untuk segera melaksanakannya. Masalah usia, memang aku bungsu di keluarga, tapi urusan pernikahan, aku pakarnya, he…he…he… Puluhan seminar, diskusi-diskusi dan kajian-kajian tentang menikah usia muda telah kuikuti, makanya aku optimis bisa meyakinkan seluruh anggota keluarga.

Perjuanganku berhasil dengan sukses yang luar biasa. Ibu dan Bapak akhirnya merestuiku, setelah sebelumnya aku sudah berkali-kali meyakinkan dan menyitir beberapa ayat Alquran dan Hadis. Sedang saudara-saudaraku yang lain tidaklah begitu susah kuhadapi. Setelah Bapak dan Ibu merestui, secara serempak mereka semua juga turut mendukung. Bahkan Kak Nia yang katanya nggak mau menganggapku adik lagi kalau sampai aku melangkahinya malah mengatakan hal yang tak kusangka-sangka.

“Sam, bagaimana kalau kita adakan acara pernikahannya barengan saja? Insya Allah Kakak sudah punya calon dan Kakak yakin sesuai dengan kriteria yang kamu sebutkan dalam memilih pasangan.” Tak hanya aku, Ibu, Bapak, dan saudara-saudaraku yang lain yang memang sengaja berkumpul untuk membicarakan masalah pernikahan tersenyum bahagia.

“Tapi, Sam, calon istrimu siapa?” Kak Yarni tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Pertanyaan itu memang sudah kutunggu-tunggu. Dari tadi aku sibuk membayangkan reaksi semuanya seandainya aku menyebutkan siapa calonku.

Sebelum aku menjawab, tiba-tiba Siti—pembantu di rumah ini—datang menghidangkan minuman. Seperti biasa, sambil tersenyum dia mempersilahkan kami minum, lalu kembali ke belakang.

“Saya akan menikah dengan…Siti,” jawabku akhirnya setelah semua menunggu-nunggu. Sitilah temanku di SMP dulu yang hafalan Qurannya hampir 15 juz. Reaksi yang kuterima sungguh luar biasa. Bola mata Ibu dan Bapak membulat, Kak Nia dan Kak Ati terlonjak. Bang Hendi melongo, dan yang paling mengejutkan adalah Kak Yarni, dia pingsan.

Tapi apapun reaksi mereka, aku akan kembali meyakinkan, bahwa pilihanku tidak salah. Bahwa Siti memang memenuhi semua kriteria istri solehah yang kuidamkan, walaupun Siti lebih tua dua tahun dariku. Aku yakin Siti tak akan menolak.

Medan, 7 Januari 2003

Bila Aku Harus Menikah

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya jawab :). Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar wanita menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang maupun pemikiran. Dan ukuran matang tidaknya seseorangpun tidak ada parameter/spesifikasi yang jelas.

Soal menggenapkan separuh dien, saya juga tahu kalo menikah itu sunnah Rosul. Tapi, menikah itu bukan hanya mempertemukan seorang lelaki dan seorang wanita saja. Menikah juga merupakan pertemuan dakwah, pertemuan yang akan meningkatkan ghirah perjuangan dan produktifitas dakwah sehingga terjadi persebaran dakwah yang lebih luas lagi (Red. Catatan Seorang Ukhti). Tuh kan.. nikah itu bukan maen-maen ?! Ada hal yang lebih berat lagi selain kesenangan dan itu jelas-jelas akan dituntut pertanggungjawabannya dipengadilan akhir nanti.

Oke, saya akan segera menikah. Tapi calon yang seperti apa? Menurut pendapatnya Syeikh Musthafa Masyhur, Untuk membangun keluarga muslim yang dilandasi taqwa, pertama kali seorang muslim harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan yang memahami tugas risalah hidupnya. Menjadikan pasangan hidupnya sebagai sahabat dakwah yang baik, yang selalu mengingatkan bila ia lupa, memberi dorongan dakwah dan tidak menghalanginya. Nah kan, berarti, saya harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan memahami tugas risalah hidupnya (dengan kata lain adalah orang yang sholeh).

Soal sholeh, dulu saya menganggap, dengan sholeh saja maka sifat-sifat istimewa lainnya akan mengikuti. Ternyata tidak. Selain kriteria sholeh, kita juga harus bisa mengenali keistimewaan sang calon dimata kita. Untuk apa ? Ya.. agar hidup kita lebih berwarna dengan kehadirannya. Karena menikah bukan hanya untuk satu atau dua tahun kedepan saja, tapi bisa jadi seumur hidup kita, sepanjang nafas keluar dari ruh kita. Bisa dibayangkan, kalo ternyata sang calon tidak memiliki keistimewaan tersendiri dihati kita, bagaimana warna hidup kita kelak ?! Pucat pasi tanpa warna. Dan soal Falling in love at the first sight ?! Mmhh .. kenapa enggak ?

Begitu pula saya. Saya ingin dinikahi bukan semata-mata karena sang calon melihat kelebihan saya saja (kalau ada). Saya ingin dinikahi seseorang karena saya istimewa dimatanya, dapat membuat binar pelangi kebahagiaan yang tulus diwajahnya, serta dapat membumikan cinta kedalam hatinya. Dan dengan senyum tulusnya pula, dia mampu membuat hati saya bergetar penuh syukur keharuan akan anugerahNya.

Ya Rabbi, anugerahkanlah hamba salah seorang hambaMu yang sholeh yang dapat menjadikan hamba seorang istri yang sholehah, yang dapat menjadikan hamba ibunda dari para jundi-jundiMu, yang dapat membantu hamba menegakkan dienMu, membahagiakan kedua orang tua kami, meninggalkan dunia ini dalam keadaan khusnul khatimah, dan menjadikan hamba akhlus surga .. Amin ya Allah ya robbal alamin..

Wallahualam bish showab

Sumber :
eramuslim (irma)

Bagaimana Meminang secara Islami?

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Pa Ustadz saya ingin menanyakan bagaimana hukum tunangan menurut islam? Kalau tukar cincin bagaimana?' Dan apa ada tunangan cara Islam? Mohon penjelasannya Pa Ustadz..

Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

Jawaban :

Assalamu‘alaikum warahamatullahi wabarakatuh

Tunangan bahasa Fiqihnya adalah Khitbah atau meminang. Khitbah atau meminang adalah proses selanjutnya setelah ikhtiyar dan ta’aruf. Dalam kitab hadits maupun fiqh disebutkan bahwa melihat dilakukan saat khitbah. Bab melihat pasangan dimasukkan ke dalam bab khitbah. Dan ketika yang dilihat tidak cocok maka secara spontan calon mempelai baik pria atau wanita dapat menolak secara langsung atau melalui perantara, seketika atau dalam beberapa hari setelah itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq: “Khitbah adalah muqaddimah (permulaan) pernikahan dan disyari’atkan Allah sebelum terjadinya aqad nikah agar kedua calon pengantin mengenali calon pasangannya satu sama lain. Sehingga ketika seseorang maju pada proses aqad nikah dia dalam kondisi telah memperoleh petunjuk dan memiliki kejelasan (tentang calonnya) “.

Masalah melihat dan ta’aruf apakah saat khitbah atau sebelumnya, keduanya dapat dilaksanakan dan ini adalah masalah teknis, sehingga dapat dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan tradisi daerah, wilayah atau negara masing-masing. Untuk umat Islam di Indonesia yang cenderung pada perasaan, sulit menolak calon pasangannya setelah terjadi khitbah. Sehingga lebih baik proses melihat atau ta’aruf didahulukan sebelum proses khitbah. Begitu juga terkait dengan ta’aruf tentang akhlak, sifat dan prilaku sebaiknya sebelum khitbah. Sehingga ketika terjadi proses khitbah atau meminang, semua telah jelas dan tergambar tentang fisik dan akhlaknya.

Dalam khitbah dibolehkan saling memberi hadiah. Tetapi memberi hadiah itu bukanlah suatu yang wajib. Statusnya sama seperti memberi hadiah di waktu-waktu yang lain. Ada juga tradisi yang disebut tukar cincin. Tukar cincin, merupakan tradisi Barat yang tidak dikenal dalam Islam, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, sahabat dan salafu shalih tidak pernah melaksanakannya.

Suatu kesalahan yang sering terjadi di masyarakat, banyak diantara mereka yang menganggap bahwa ketika sudah khitbah seolah-olah sudah menikah. Sehingga kerap kali melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti pergi berdua, bergandengan tangan atau yang lebih dari itu. Semuanya diharamkan dalam Islam dan hendaknya calon pengantin jangan merusak kesucian pernikahan dengan segala sesuatu yang di haramkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Khitbah adalah proses muqaddimah untuk menikah dan belum terjadi pernikahan. Oleh karena itu untuk menghindari kemaksiatan, dianjurkan agar jarak antara waktu khitbah dan aqad nikah tidak terlalu lama sehingga calon istri tidak berada dalam kondisi lama menanti.

Wallahu A‘lam Bishawaab


Pusat Konsultasi Syariah

Agar Gaji Nggak Cepat Habis

Berangan-angan menjadi orang yang 'banyak duit' merupakan impian semua
orang. Dengan uang segalanya dapat anda peroleh, rumah, mobil, perhiasan, dan sebagainya.
Tentu saja untuk mendapatkan uang yang banyak kita harus bekerja keras. Dan tentunya anda tidak ingin penghasilan yang anda peroleh dari kerja keras itu habis begitu saja bukan?

Nah agar penghasilan anda tidak sia-sia dan anda dapat menjadi orang
'berkantong tebal', coba deh cara berikut ini:

Setiap kali habis menerima gaji, jangan langsung pergi ke pusat perbelanjaan seperti Mal. Pulanglah ke rumah dan buat daftar pengeluaran kebutuhan anda, seperti kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak-anak, kesehatan, dll. Kemudian catat setiap kali anda mengeluarkan uang. Dengan demikian anda akan mengetahui kemana saja 'larinya' uang anda.

Usahakan setiap kali membeli peralatan rumah tangga, pilihlah yang berkualitas bagus namun dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sehingga, anda tidak perlu sering-sering mengeluarkan biaya untuk 'servis'.

Belanja kebutuhan sehari-hari sekaligus untuk persediaan sebulan mungkin akan lebih menghemat pengeluaran anda. Karena membeli dalam jumlah banyak jatuhnya akan lebih murah daripada membeli eceran. Lagi pula anda tidak perlu bolak-balik membeli karena kehabisan gula, susu, atau kopi. Sehingga hal ini akan menghemat ongkos transport belanja.

Jangan mengalokasikan uang anda untuk hal-hal yang bersifat kesenangan
belaka. Seberapun kecilnya gaji anda, biasakan untuk selalu menabung. Kalau bisa setiap bulan sisihkan 10% dari gaji anda ke dalam tabungan. Pilihlah Bank dengan reputasi baik dengan bunga yang lumayan.

Pilihlah rumah makan yang murah meriah, setiap kali anda makan siang. Jangan makan di restoran mahal yang akan menyedot isi kocek anda. Kalau perlu bawalah bekal makanan dari rumah. Selain irit juga higienis kan?

Jangan hanya menabung! dari gaji. Setiap kali anda mendapat bonus, THR, atau insentif, sisihkan untuk ditabung walaupun sedikit.

Selain tabungan, kalau memungkinkan investasikan uang anda ke dalam bentuk saham, obligasi atau deposito sejumlah tabungan yang anda sisihkan untuk jangka panjang.

Mengikuti arisan yang diadakan kantor atau lingkungan rumah bisa juga anda pilih sebagai alternatif 'menyelamatkan' uang anda.

Kalau anda masih bingung 'menyisihkan' penghasilan anda yang tidak banyak, mintalah bantuan orang lain yang handal dan anda percaya dalam mengelola uang.

Dengan melakukan hal tersebut, jangan takut dianggap 'pelit'. Toh anda
bukanlah pelit melainkan hemat. Karena siapa lagi yang akan menyelematkan uang yang anda peroleh dengan susah payah, kalau bukan anda sendiri?
Lagipula hal ini akan sangat bermanfaat bagi hidup anda kelak.



(Selalu) Hangatkan Cinta Anda

Mahligai cinta yang membingkai rumah tangga sepasang suami istri tak selamanya mampu dipertahankan keindahannya. Ia bukan sesuatu yang tak lekang dimakan waktu dan juga tak pudar terkikis dinamika kehidupan. Namun bukan tak mungkin keindahan itu menjadi abadi selamanya, tak terputus oleh perubahan masa dan bahkan tak terhenti oleh perpisahan yang tak mungkin dicegah kejadiannya. Cinta bukanlah sekedar mencium kening pasangan anda setiap pagi atau menjelang tidur, juga tak sebatas kehangatan malam yang diisi dengan riang canda kemesraan. Tidak juga hanya dengan menghadiahkan sesuatu bila dia ulang tahun. Tetapi, cinta lebih dari suatu komitmen yang membutuhkan pemikiran agar selalu bersemi diantara anda.

Berapapun usia pernikahan anda, bukan alasan untuk tidak senantiasa memberikan manisnya cinta terhadap pasangan anda atau membiarkan kehambaran mentaburi hari-hari anda bersamanya. Seiring waktu yang berjalan, sebanyak buah hati yang semakin besar, seharusnya juga semakin bertambah kehangatan cinta diantara sepasang suami istri, meski tidak jarang hidupnya hanya sebatas menikmati masa-masa tua. Karena justru, totalitas cinta anda kepada pasangan anda dimasa-masa tua akan semakin membuat pasangan anda tersenyum bangga (hingga ke dalam hati) bahwa ia tak pernah salah menjadikan anda pasangan hidupnya.

“Berpasangan engkau telah diciptakan, dan selamanya engkau akan berpasangan”. Begitulah sebagian jawaban sang Guru atas pertanyaan seorang aulia, Al Mitra, tentang perkawinan, seperti dituturkan penyair asal Libanon, Khalil Gibran dalam Sang Nabi. Hidup diyakini semakin punya warna dengan memiliki pasangan. Bukankah Allah telah mengumpulkan yang terserak untuk berpasang-pasangan?

Yang dituliskan Gibran bisa sangat tepat, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah keadaan pasangan itu setelah perjalanan yang begitu banyak melalui riak, gelombang, onak dan duri, Masihkah komitmen dan pengorbanan yang diberikan seseorang terhadap pasangannya sama dengan yang pernah diberikannya saat pertama kali cinta bersemi, atau saat awal menapaki rumah tangga, dan berjanji saling setia. Masihkah kelembutan yang dulu dicurahkan dalam belaian-belaian kasih sayang, sama hangatnya dengan sentuhan pertama kali seorang kekasih terhadap disahkan sebagai pasangannya. Jawabannya tentu ada pada bagaimana seseorang itu menempatkan cinta agar senantiasa bersemi, berapapun usia pernikahan mereka.

Untuk itu perlu kiranya suatu pemikiran yang berkesinambungan dibangun oleh setiap pasangan tentang bagaimana caranya agar kehangatan cinta tetap melingkari setiap fase perjalanan rumah tangga, agar kelembutan kasih sayang menjadi dasar setiap gerak langkah bersama menuju kebahagiaan dan kedamaian kedamaian. Tidak berlebihan pula jika berharap cinta itu menjadi satu cinta yang tak terpisahkan.

Berikut beberapa tips untuk mempertahankan kehangatan cinta:

1. Menempatkan cinta kepada Allah diatas segala cinta terhadap apapun. Dan senantiasa meningkatkan cinta itu, karena Allah-lah yang Maha menganugerahkan cinta kepada orang-orang yang mencintai-Nya (QS. Al-Maidah:54). Maka ajaklah pasangan (dan seluruh anggota keluarga) untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya, misalnya dengan membaca do’a Al Ma’surat bersama setelah qiyamullail.

2. Senantiasa berdo’a kepada Allah agar ditetapkan dalam keshalihan, yang karenanya rahmat, kasih sayang dan kedamaian tetap tercurahkan.

3. Ciptakan komunikasi yang selaras, berkesinambungan, mesra dengan mengkedepankan kaidah-kaidah berkomunikasi seperti, kata-kata yang benar, lemah lembut, mulia dan juga tidak melupakan aspek ketegasan sikap. Komunikasi yang demikian tentu menutup rapat celah-celah kecurigaan dan saling tidak percaya antar sesama.

4. Jadikan kamar/tempat pembaringan adalah tempat dimana segala curahan hati bisa tumpah namun tetap dalam koridor kehangatan dan kemesraan. Sehingga dalam kondisi apapun, semua masalah tetap bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang tenang, dari sekedar lupa cium kening pagi ini, masalah uang belanja sampai soal perkelahian anak-anak tadi siang dengan teman bermainnya.

5. Gunakan waktu secara efektif dan efisien. Jangan sekali-kali menggunakan waktu keluarga (hari libur misalnya) untuk pekerjaan atau hal-hal yang mengganggu waktu keluarga. Karena dengan apapun anda mencoba membayarnya, kerugian yang diderita pasangan anda tidak akan pernah bisa terbayarkan, meskipun anda menggandakan kualitasnya pada hari libur berikutnya.

6. Cerahkan hari-hari dengan variasi, fantasi dan ‘warna-warni’ yang anda ciptakan khusus untuk pasangan anda. Letak aksesoris kamar yang berubah-ubah (terutama yang ringan-ringan), atau warna sprei dan aroma kamar yang menyegarkan. Itu didalam rumah, untuk aktifitas di luar rumah, biasakan secara rutin untuk sekedar jalan pagi bersama di hari minggu (libur) atau jika ada rezeki, sempatkan untuk berekreasi (tamasya).

7. Ciptakan juga hal-hal baru yang menceriakan hari bersamanya, misalnya dengan mencuci pakaian bersama, atau kerjabakti membersihkan rumah dihari libur. Cipratan air dan saling melempar lap pel dalam bingkai canda (dijamin) akan mampu meluluhkan kebekuan atau bongkah konflik yang mungkin saja (berpotensi) tumbuh tanpa disadari, mungkin tidak didiri anda tapi pasangan anda?

8. Jadikan setiap cobaan dan konflik yang ada sebagai bagian dari dinamika cinta, bukankah cinta itu tak selamanya ‘berwarna’ indah? Bahwa didalamnya juga bisa dirasakan pahitnya perjalanan yang dilakukan bersama, hal itu akan menyadarkan kita bahwa juga hidup akan selalu menampakkan warna-warni yang berbeda, bisa disukai bisa tidak, namun tetap harus dijalani. Ini seperti sepasang kekasih yang baru menikah, seringkali hanya menangkap sisi-sisi indah kehidupan tanpa peduli cobaan yang siap (pasti) menanti.

9. Tak salahnya mengenang selalu saat-saat indah bersama pasangan anda, kapanpun dan dimanapun, sendiri maupun berdua. Niscaya, hal itu akan semakin membuat anda bangga terhadap pasangan anda itu. Atau setidaknya mampu memaksa anda mengikhlaskan kesalahan yang pernah dibuat pasangan anda.

10. Mengingat-ingat kelebihan dan keistimewaan yang ada pada pasangan dan meminimalisir ingatan akan kesalahan dan keburukan yang mungkin (pernah) ada padanya. Insya Allah, indahnya cinta yang dulu bersemi pertama kali tetap anda rasakan saat ini, terlebih ditambah oleh ribuan kehangatan yang tercurah dari buah hati yang teramat mencintai anda berdua. Wallahu a’lam bishshowab

sumber :
eramuslim
(Abi Hufha)